Tak Boleh Bawa Penumpang, Driver Ojek Online Ini Curhat di Facebook

  • Whatsapp

ANALISNEWS, TEGAL – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya merilis Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 yang merupakan aturan turunan dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Ketika aturan ini berlaku, driver ojol dilarang mengangkut penumpang, hanya bisa mengirimkan barang atau makanan.

Hal ini membuat ojek online semakin menipis pendapatan, sementara untuk kembali ke kampung halaman mereka diharuskan melapor dan dikarantina, itupun jika tak ada pemasukan dapat membuat kondisi para ojol semakin terjepit.

Makhfuroji perantauan asal Kaliwungu Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal yang kesehariannya beraktivitas sebagai driver ojek online di wilayah  Jakarta, mulai merasakan betapa beratnya situasi, bahkan merilis curhatannya melalui media sosial Akun Facebooknya, berisikan yakni,

“surat untuk Pemangku Jabatan”

….

Buat pak pemangku jabatan… yg mau melarang ojol tuk sementara ga boleh bawa penumpang…

– Kenapa ga semua aja angkutan umum di larang beroperasi… perlu di ketahui kami hampir tiap hari, di tes suhu tubuh..hampir tiap hari juga kami di semprot cairan yg katanya buat membunuh kuman sampai badannya kadang bau obat. (kami tetap sabar walau dalam pikiran jelek kami sebenarnya kami ini kaya pembawa virus)

-Sekarang saja pendapatan kami turun sampai 80%…sah sah saja pemerintah bikin aturan untuk kebaikan bersama, tapi alangkah baiknya aturan itu di barengi dengan solusi.solusi agar kami tak masuk lagi ke golongan RAKYAT INDONESIA YG TIDAK MEMPUNYAI PEKERJAAN…..

….

Bahkan saat dihubungi Via jejaring sosial, Senin (06/04) ia mengutarakan alasannya dengan harapan agar pemerintah mampu mencari solusi lain yang terbaik, sehingga dirinya dan rekan-rekan ojek online tetap bisa mencari nafkah untuk keluarga, namun ia tetap mendukung pemerintah dalam menanggani pencegahaan virus Covid -19.

Untuk diketahui, adapun pelaksanaan PSBB dilakukan selama masa inkubasi terpanjang (14 hari). Jika masih terdapat bukti penyebaran berupa adanya kasus baru, dapat diperpanjang dalam masa 14 hari sejak ditemukannya kasus terakhir. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *